Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Notes. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 November 2014
Jumat, 21 November 2014
Label:
Notes
Hari ini, aku mendap[atkan sebuah pelaaran berharga dari sebuah Printer. Bagaimana tidak, ketika terjadi sebuah kerusakan, perinter tersebut tidak bisa di pasangkan kembali ke komputer. Alias tidak bisa digunakan kembali,. Begitupun hidup.. Ketika kita sudah terlanjur melakukan kesalahan, sangat susah rasanya untuk kembali kepada kondisi awal. Seperti kertas putih yang terlanjur terkena noda tinta. Tidak akan bisa kembali ke sedia kala. Kadang, ucapak kita melebihi tajamnya dari sebuah pisau. Dia lebih tajam dari pisau yang paling tajam dan lebih cepat dari anak panah yang melesat dari panahnya. Maka dari itu, berhati hati dan bijaksana sebelum bicara sebelum ada seseorang yang terluka karena ucapan kita.
Coretan Bodoh, Pemuda tanpa Otak
Minggu, 16 November 2014
Label:
Notes
Hatiku saat ini tengah berkecambuk. Pertempuran antara beberapa hal
membuatku melemah dan tanpa kendali. Nafsu duniawi mengalahkan semua
imajinasi yang telah ku tata secara matang dan penuh ketenangan jiwa.
Jiwaku seolah-olah mati, ragaku seolah-olah musnah tanpa bekas ditelan
dunia yang tua ini dan Keserakahan yang abadi.
Lama ku hidup dalam sebuah keterasingan yang kujalani dengan penuh paksaan, bahkan aku tak sempat untuk mengatakan apa yang harusnya ku katakan padamu. Bibir ini seolah terjahit oleh keangkuhanmu, pikiran ini seolah terbekukan oleh egomu dan jiwa ini terasa mati oleh sikapmu yang begitu kuat untuk sekedar ku masuki.
Akh, rasanya ingin kuputar ulang waktu, ingin ku balikkan dunia agar semuanya apa yang ada dan nyata menjadi semu dan tak pantas lagi. Tapi aku tak bisa lakukan apapun, karena aku tak bisa. Tuhan masih sebagai pengendali Utama kehidupan ini. Aku hanya menjalankan apa yang telah Tuhan rencanakan.
Hidup di sebuah negri yang penuh kemunafikan, janji janji palsu dan omong kosong serta kerakusan para petinggi membuatku semakin bertambah galau dan gelisah, bahkan menggila karena kerasnya aturan yang harus terpaksa kami jalani. Tapi inilah takdir yang telah Tuhan gariskan, semuanya terang dan nyata. Samar-samar akan hilang oleh cahaya yang datang dari celah Rumbia.
Akhirnya nanti akan tiba semuanya pada satu masa yang tak biasa,ketikan semuanya harus berbalik total dan menyeluruh. Menjadikan penguasa sebagai jelata dan jelata sebagai raja. Menghakimi semuanya yang telah terbukti menjadi pengecut-pengecut di sisa jaman. Menghancurkan segala macam tirani yang telah membelenggu dan memotong lidah kami yang teracam. Menjadikan negri ini sebagai negri yang makmur akan raja raja yang arif dan bijaksana. Menjadikan negri ini menjadi negri yang paling disegani oleh dunia dan negri yang dipuja oleh seluruh bangsa.
Sekarang..., aku hanya ingin melakukan satu hal. Pergi memandang laut. Mencoba untuk menerobos celah cakrawala dan menyingkap tabir misteri dibalik semua itu. Berjalan diatas butiran butiran pasir pantai yang belum ternodai oleh kemunafikan dan keserakahan dan membiarkan jemari kakiku bebas menikmati jilatan jilatan dari ombak yang datang. Indah rasanya.... Tenang rasanya.... damai Rasanya... hidup disuatu tempat tanpa kemunafikan, kesombongan, keserakahan dan keangkuhan yang mencoba menantang Tuhan di dunia ini. Indah rasanya jika di dunia itu hanya ada Aku, Kau dan beberapa orang tanpa nafsu serta keserakahan yang menyelimuti hatinya.
Aku takut jika semuanya hanya mimpi karena dunia ini penuh dengan sandiwara dan omong kosong yang memuakkan. Penuh dengan intrik licik yang saling menjatuhkan dan penuh dengan segala hal hal brengsek yang perlu di babat habis tanpa ampun. Kesal dan sebal rasanya jika semuanya itu kandas oleh pikiran pikiran manusia manusia licik.
Tapi aku yakin, suatu saat nanti, entah esok, lusa, lusa atau lusa... semuanya akan menjadi nyata. Entah ada atau tiadanya aku disitu, entah ada atau tiadanya kita disana, atau bahkan saat semua manusia telah ditiadakan karena sudah terlalu melampaui batas kewajaran yang telah digariskan-Nya. ya... Suatu saat nanti.... ya Suatu saat nanti... Entah kapan Suatu saat nanti itu datang..... dan Suatu saat nanti yang hanya ada Aku, Kalian dan Tuhan....
Sebuah Negri di Sebrang Jalan, 28 Juli 1610
Lama ku hidup dalam sebuah keterasingan yang kujalani dengan penuh paksaan, bahkan aku tak sempat untuk mengatakan apa yang harusnya ku katakan padamu. Bibir ini seolah terjahit oleh keangkuhanmu, pikiran ini seolah terbekukan oleh egomu dan jiwa ini terasa mati oleh sikapmu yang begitu kuat untuk sekedar ku masuki.
Akh, rasanya ingin kuputar ulang waktu, ingin ku balikkan dunia agar semuanya apa yang ada dan nyata menjadi semu dan tak pantas lagi. Tapi aku tak bisa lakukan apapun, karena aku tak bisa. Tuhan masih sebagai pengendali Utama kehidupan ini. Aku hanya menjalankan apa yang telah Tuhan rencanakan.
Hidup di sebuah negri yang penuh kemunafikan, janji janji palsu dan omong kosong serta kerakusan para petinggi membuatku semakin bertambah galau dan gelisah, bahkan menggila karena kerasnya aturan yang harus terpaksa kami jalani. Tapi inilah takdir yang telah Tuhan gariskan, semuanya terang dan nyata. Samar-samar akan hilang oleh cahaya yang datang dari celah Rumbia.
Akhirnya nanti akan tiba semuanya pada satu masa yang tak biasa,ketikan semuanya harus berbalik total dan menyeluruh. Menjadikan penguasa sebagai jelata dan jelata sebagai raja. Menghakimi semuanya yang telah terbukti menjadi pengecut-pengecut di sisa jaman. Menghancurkan segala macam tirani yang telah membelenggu dan memotong lidah kami yang teracam. Menjadikan negri ini sebagai negri yang makmur akan raja raja yang arif dan bijaksana. Menjadikan negri ini menjadi negri yang paling disegani oleh dunia dan negri yang dipuja oleh seluruh bangsa.
Sekarang..., aku hanya ingin melakukan satu hal. Pergi memandang laut. Mencoba untuk menerobos celah cakrawala dan menyingkap tabir misteri dibalik semua itu. Berjalan diatas butiran butiran pasir pantai yang belum ternodai oleh kemunafikan dan keserakahan dan membiarkan jemari kakiku bebas menikmati jilatan jilatan dari ombak yang datang. Indah rasanya.... Tenang rasanya.... damai Rasanya... hidup disuatu tempat tanpa kemunafikan, kesombongan, keserakahan dan keangkuhan yang mencoba menantang Tuhan di dunia ini. Indah rasanya jika di dunia itu hanya ada Aku, Kau dan beberapa orang tanpa nafsu serta keserakahan yang menyelimuti hatinya.
Aku takut jika semuanya hanya mimpi karena dunia ini penuh dengan sandiwara dan omong kosong yang memuakkan. Penuh dengan intrik licik yang saling menjatuhkan dan penuh dengan segala hal hal brengsek yang perlu di babat habis tanpa ampun. Kesal dan sebal rasanya jika semuanya itu kandas oleh pikiran pikiran manusia manusia licik.
Tapi aku yakin, suatu saat nanti, entah esok, lusa, lusa atau lusa... semuanya akan menjadi nyata. Entah ada atau tiadanya aku disitu, entah ada atau tiadanya kita disana, atau bahkan saat semua manusia telah ditiadakan karena sudah terlalu melampaui batas kewajaran yang telah digariskan-Nya. ya... Suatu saat nanti.... ya Suatu saat nanti... Entah kapan Suatu saat nanti itu datang..... dan Suatu saat nanti yang hanya ada Aku, Kalian dan Tuhan....
Sebuah Negri di Sebrang Jalan, 28 Juli 1610
Diary Paskibra Kab Cilacap 2005
Label:
Notes

Sedikit Kisahku saat menjadi Paskibra
Minggu, 24 Juli 2005.
Aku dan Beberapa temanku datang ke Sekolah untuk mengikuti Seleksi Paskibra Kab/Kota Cilacap. Dari 12 Temanku, hanya 4 yang terpilih untuk mewakili sekolah mengikuti Seleksi Paskibra 2005. Dan diantara 4 temanku itu, aku adalah salah satunya. Sementara yg lain adalah Evi, Nimas dan Dartim.
Senin, 25 Juli 2005
Hari ini aku berangkat jam 06:00 dari Rumah menuju ke tempat Seleksi di Gedung Widyaloka/ Gedung PGRI. Tepat jam 8 Aku telah sampai di Gedung ini dan ternyata sudah banyak teman-teman dari seluruh pelosok Kabupaten yang datang. Ini adalag Test Pertama Gelombang Pertama.
Jam 10, Wakil dari Sekolah kami mendapat Jatah Seleksi. Kami digabung dengan 2 Sekolah lain, yakni SMA N 1 Sampang dan SMK Dr.Soetomo Cilacap. Kami melakukan Tes Fisik. Kami Melakukan PBB dan Berdiri dengan sikap sempurna selama kurang lebih 2 Jam.
Jam 3 Sore, Seleksi Tahap Pertama Gelombang Pertama Selesai. Dari 4 Wakil sekolahku, Aku dan Nimas beruntung untuk bisa lanjut ke Seleksi tahap kedua. yang akan dilakukan pada hari Kamis, 28 Juli 2005.
Kamis, 28 Juli 2005.
Masih ditempat yang sama. Kali ini Seluruh Peserta Sleksi Gelombang 1 dan 2 Digabung. Semuanya berkisar 170 an Anak dari Seluruh Sekolah se-Kabupaten Cilacap. Seleksi tahan 2 pun dimulai. Kami melakukan seleksi Fisik lagi. Kali ini Pembagian Putra dan Putri. Putra di Seleksi terlebih Dahulu dari jam 9 sampai jam 12 Siang dengan melakukan PBB selama 30 Menit, selanjutnya berdiri dengan sikap sempurna selama kurang lebih 3 Jam. Teng, jam 12 Siang, maka kami dipersilahkan Istirahat.
Jam 1 Siang Giliran Putri, ternyata Putri hanya di test selama 1 Jam. Tapi ternyata banyak yang Gugur karena tidak Kuat. Lalu jam 2, saya kira tes selesai. Ternyata salah. Putra di tes lagi untuk kedua kalinya. Lalu jam 3 Sore adalah Pengumuman Siapa saja yang akan menjadi CAPASKA Kab.Cilacap 2005. Dengan berdebar-debar, Alhamdulillah, Saya dan Nimas pun diterima dan Lolos menjadi Capaska Kab.Cilacap.
Setelah dinyatakan diterima, kami yang diterima berkumpul didalam gedung untuk melakukan pengukuran Baju Olahraga, Pakaian Kebesaran, Peci, Sepatu Kets dan Tugas, Pembekalan sebelum di Asramakan.
Jum'at 29 Juli 2005.
Aku dan Nimas minta Ijin untuk Mencari dan Syarat-syarat untuk dibawa Pas Pengasramaan. Kami pun pergi ke Puskesmas untuk meminta Surat Keterangan Sehat dan Pemeriksaan Kesehatan.
Sabtu, 30 Juli 2005.
Saat pemilihan ketua kelas, Saya secara Aklamasi terpilih menjadi Ketua Kelas. Padahal saya akan pergi menunaikan Tugas menjadi Paskibra di Kab. Jadi, saat saya pergi, saya menyerahkan semua wewenang dan tanggung jawab kepada wakil ketua saya.
Minggu, 31 Juli 2005.
Hari ini sebelum jam 1 Siang, seluruh Peserta Capaska diharuskan Berkumpul di Asrama BaDikLat Pemkab Cilacap. dan saya sampai di Asrama jam 11 Siang, lalu saya ke Panitia dan ternyata saya kebagian di kamar 4A. Setelah saya menuju kamar 4A (lantai 2) sudah ada satu teman saya di sana, yakni Irsyad dari SMA N 2 Cilacap. Tak selang berapa lama muncul Winarno dari SMA N 1 Sampang dan Setyawan dari SMK Dr.Soetomo Cilacap.
Tepat jam 1 Siang, kami Capaska berkumpul di Aula Gedung Diklat untuk Gladi Resik Upacara Pembukaan Diklat Paskibra Kab.Cilacap 2005. Dan pukul 2 Siang, Acara Resmi dibuka oleh Bupati Cilacap, Bapak.Probo Yulastoro. dan dengan dibukanya Diklat ini, maka Resmi sudah kami menjalani masa KARANTINA.....
Senin 1 Agustus 2005.
Hari Pertama Di Asrama.. Saya Kira akan langsung menjalani Latihan. Ternyata tidak. Kami semua diharuskan memakai Baju Seragam Olahraga yang telah disediakan oleh Panitia. Dan kamipun.. Jalan-jalan.... Berangkat Habis Subuh jam 5 Pagi, menyusur jalan menuju Pantai Teluk Penyu. Disepanjang Jalanan Kami mulai bernyayi dan meneriakkan Yel-yel. Secara tidak langsung kamipun menjadi pusat perhatian warga sekitar. Senangnya bisa tergabung ke dalam 77 Pemuda terpilih di kab.Cilacap...
Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Teluk Penyu. Di pantai ini kami menikmati Indahnya SUn Rise.... Disini ada permainan unik. kami bermain Sepak Bola di Pantai. ada aturan lucu dan aneh, setiap Bola atau Kita terkena Air Laut, maka semuanya harus Phus Up sebanyak 10 Kali...^_^
Tepat jam 9 Pagi, kami lanjut ke Benteng Pendem yang berada di Area Pertamina UP IV Cilacap. Disini Kami mengitari seisi Benteng dan bersantai. Lalu kami diberi Jatah SPP (sarana penunjang lapar) berisi Snack... Yummi... Selamat Makan Kawan...^_^
Jam 12 Kami sudah tiba di Asrama lagi, Lalu kami langsung di sambut oleh Makn Pagi dan Siang... Setelah makan, kami dipersilahkan Istirahat. Jam 3 Sore, kami mulai Latihan Perdana di halaman gedung Diklat. sampai jam 5 Kami diberi Snack lagi.... terus latihan sampai jam 6 sore. Setelah tu mandi, makan dan Belajar...
Selasa, 2 Agustus 2005.
Tidak ada yang Istimewa, kami latihan terus sampai sore. Sembari Latihan, sembari menyanyikan MARS PASKIBRA KAB.CILACAP 2005.
3 Agustus-13 Agustus 2005.
Kami hanya latihan, Belajar dan Latihan lalu Belajar Lagi.
Minggu, 14 Agustus 2005
Tengah Malam Jam 00:30, kami semua kaget karena dibangunkan oleh Pelatih. Smeuanya disuruh berkumpul di Lapangan Depan. Entah kenapa.... Ada yang bilang Inspeksi mendadak, ada yang mengatakan ada kunjungan dari KODIM, entah itu apa. Yang jelas, kami SALAH KOSTUM.... ahahahaha.. ada yg masih memakai Baju Tidur, Celana Kolor, dsb. Untung Pakaian Seragam saya Selalu Siap di sebelah saya....:D
Ternyata benar, kami semua disuruh baris di Lapangan dpan. Kami semuanya kena Marah.... Pelatih bener2 Marah dan Murka. Kami semua dihakimi. Kami memang merasa bersalah, apalagi ada teman kami yang melanggar aturan. Mulai dari masalah ES, BAKSO, Jalan ke INDOMART sampai (maaf) tragedi Tali Kutang Merah.... xixixixixiii... Akhirnya kami semua di beri hukuman yang setimpal. Phus Up 100 Kali... Hua... Kejamnya kau Pelatih...!!!! Setelah selesai Push Up, ternyata ada beberapa teman kami yang "HARUS PULANG" Malamitu juga. Entah Kenapa, mereka semua disuruh Mengemasi semua barang2 Mereka. Satu teman kami memberontak dia bernama AGUS SUMEDIANTO....
Akhirnya semuanya pasrah, mereka yang disuruh pulang telah mengemas semua barang-barangnya dan berdiri di depan. Tak selang berapa lam, Mobil yang akan membawa mereka pulang datang. Tanpa Basa basi, Mobil dibuka dan.... HAPPY B'DAY.... Gilaaaaaaa... Ternyata Surprise Party... Padahal kami kira itu benar dan nyata, eh ternyata hanya Kejutan Ulang Tahun....^_^ Kue, 3 Susun tertulis nama teman yang Ultah... Happy B'day untuk Kalian..^_^
Hari ini Minggu, kami akan melakukan Gladi Kotor di depan Pendopo Pemkab, Mulai Gladi untuk Pelantikan hingga Pengibaran serta Penurunan. Semuanya Tuntas jam 12 Siang. Lalu kami kembali ke Asrama....
Senin, 15 Agustus 2005.
Ini adalah latihan terakhir sekaligus Gladi Bersih. Kami mulai Gladi dari jam 8 Pagi hngga jam 12 Siang, serta Pemantapan dari jam 3 hingga jam 5.
Selasa, 16 Agustus 2005.
Pelantikan dimulai. Dari jam 3 Pagi, kami telah bangun menyiapkan semuanya. Mulai dari mandi hingga berhias(bagi PI). Jam 6 Kami pergi menuju tempat Pelantikan di Pendopo Kabupaten Cilacap. Peantikan sendiri dipimpin oleh Bapak Bupati, Probo Yulastoro. Saat Pelantikan, kami diharuskan berdiri dari jam 7 hingga jam 9 Pagi. 2 jam dengan sikap sempurna dan di Pajang di Panggung.... Malu, Bangga, Senang dan Haru... jadi satu semuanya. Apalagi saat Pelantikannya, kami diharuskan mencium Sang Saka Merah Putih dengan diiringi Puisi yang menurut saya sangat luar biasa. Sebagian dari kami tak sanggup menahan Air mata.
Setelah selesai pelantikan, Kami semuanya berfoto bersama Pelatih dan Bapak Bupati. Setelah itu kami Pulang dan Istirahat menyiapkan diri untuk besok. Jam 3 Sore kami pematangan kembali sampai jam 5 sore. Setelah itu kembali ke Asrama.
Rabu, 17 Agutus 2005.
Hari H, dimana hari ini adalah hari yang menguji Mental Kami, Menguji semuanya selama kami melakukan Pendidikan dan Latihan sebagai Paskibra. Sebelum Upacara dimulai, hujan turun.. tapi tak begitu deras. Kami memulai Tugas dengan Serah Terima Bendera Pusaka dan Duplikat Bendera Pusaka yang akan dikibarkan di Pendopo Kabupaten. Tepat jam 10, Pengibaran di mulai. Terdengar aba-aba dari Koamndan, kami bersiap. Begitu keluar ke Lapangan, dhuar.... was was, canggung, lemes, grogi pun muncul. Tapi kami sudah bertekad, pengibaran HARUS LANCAR. Kami pun berkonsentrasi, dan benar... Pengibaran Tepat dan Pas.... Kami sangat Bangga, bahagisa dan terharu. Tak sadar, saat pengibaran selesai, ternyata banyak juga penontonnya... :D
Upacara Penurunan Bendera, kami bertugas lagi. Kali ini kami bisa lebih sanai karena kami telah menguasai situasi. Tepat jam 6 Petang, Bendera telah masuk ke Lingkungan Pendopo Pemkab Kabupaten Cilacap dan Langsung kami Serah Terimakan untuk Disimpan kembali. Lalu kami melanjutkan malam itu di Pendopo dengan makan malam dan Ramah Tamah, Resepsi HUT ke-65 RI dengan seluruh pejabat di Lingkungan KAb.Cilacap dan Peserta GADA BERCAHAYA 2005. Jam 11 Malam, Acara belum selesai, tetapi pelatih minta Ijin untuk Undur diri bersama kami. dan jam 11 kami menuju Asrama. Setelah itu, kami dibebaskan boleh kemana saja oleh Pelatih. Banyak teman-teman kami yang jalan-jalan dan makan di luar, tapi karena saya cape, maka saya langsung menewaskan diri di kamar... selamat bobo....
Kamis, 18 Agsutus 2005.
Hal yang menyedihkan, Perpisahan. Kami mengikuti Upacara Pelepasan Peserta DIKLAT PASKIBRA di Hotel PENI WIJAYA. Semua tertumpah jadi satu disini. Pada acara akhir, diadakan Orgen Dadakan. Penyanyinya adalah Peserta Diklat dan Pelatih. Semua tercampur jadi satu.....
Tak terasa sudah jam 12 Siang, saatnya kami pulang ke Asal daerah masing-masing. Hujan Air Mata dimulai... Kebersamaan harus dipisahkan oleh Jarak. Kami telah merasa menjadi satu keluarga, tapi apa daya. Kami punya hidup masing-masing yang harus kami jalani.... Selamat Jalan Kawan, Kita adalah Satu dan Satu adalah Kita. Selalu ingat kata-kata itu kawan....T_T
Tinggalkan orang tua dan saudara ( dan saudara )
Ijinkan KAmi pergi Berjuang ( berjuang )
Dibawah Kibaran Sang Merah Putih ( Mereh Putih )
Majulah ayo maju kedepan ( kedepan )
Tidak kembali pulang ( pasti pulang )
Sebelum kita yang menang ( Pasti Menang )
Walau mayat terhampar di medan juang
Untuk Bangsa aku lah Berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju...
Singkirkanlah Dia... Dia... Dia...!
Kikis habislah Mereka
Demi negara Indonesia
Wahai Pasukan PAskibraka
Dimana Engkau Berada ( Di Cilacap )
Teruskan perjuangan para pahlawan
Untuk Bangsa akulah Berjuang...!
IKRAR PUTERA INDONESIA
Aku mengaku Putera Indonesia dan berdasarkan pengakuan ini :
* Aku mengaku bahwa aku adalah mahluk Al Khalik yang Maha Esa dan bersumber pada-Nya.
* Aku mengaku bertumpah darah satu, Bangsa Indonesia
* Aku mengaku berjiwa satu, Jiwa Pancasila
* Aku mengaku berbudaya satu, Budaya dan Bahasa Indonesia
* Aku mengaku bernegara satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
* Aku mengaku bercara karya satu, Masyarakat Adil Makmur berdasarkan Pancasila dan sesuai
dengan isi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
* Aku mengaku bercara karya satu, perjuangan besar dengan ahlak dan Insan menurut Ridho Tuhan
Yang Maha Esa
Berdasarkan pengakuan-pengakuan ini dan demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh menjalankan kewajibanku untuk mengamalkan semua pengakuan ini dalam karya hidupku sehari-hari.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membenrkati niaku ini dengan taufik dan hidayah-Nya serta inayah-Nya
Kenangan 31 Juli 2005-18 Agustus 2005 di DIKLAT PEMKAB CILACAP, PASKIBRA 2005 Jaya.....!!!!
Kopi Susu
Label:
Notes
Malam ini terasa berbeda. entah kenapa saya begitu melankolis. takut
seakan-akan saya harus kembali pulang besok untuk selamanya. Padahal
saya belum melakukan sesuatu. Entah membantu orang lain, membalas budi
ataupun membuat saya menjadi berguna bagi banyak manusia.
Saat ini jelas, semua rasa tak bisa kubayangkan. Entah Bahagia yang bercampur dalam duka layaknya larutan kopi susu yang tengah saya minum. Rasa pahit bercampur dengan manis dan kentalnya susu membuat saya benar-benar merasakan nikmatnya hidup. Kadang memang hidup ini manis, melebihi manisnya susu, saat itu kadang kita lupa bersyukur dan lupa siapakah yang telah membuat manisnya kehidupan. Kadang kita terlalu congak dengan apa yang kita raih. Pongah dan sombong. Padahal kita sendiri tak tahu apa yang akan terjadi esok.... jangankan esok, satu detik yang akan datangpun kita tak akan pernah tahu.
Kadang juga pahit, saat banyak masalah datang, Musibah menghampiri seakan cobaan tak henti-hentinya mendera. Saat itu pula kadang kita malah semakin jauh dan menjauh. Bahkan tak jarang kita malah mempertanyakan ke Maha Penyayangan DIA pemilik alam semesta ini.
Pantaskah kita melakukan hal tersebut? Pasti TIDAk, tapi apa kata hati nurani? Apa jawaban dari Otak? Beragam.... Layaknya Kopi Susu yang saya minum tadi, ada warna hitam karena kopinya dan putih karena susunya.
~~~
Hari ini aku merasakan sangat melankolis.... ditemani gerimis dan udara malam yang dingin. Rasanya aku sedang berada pada suatu tempat entah dimana, yang jelas kedamaiana kutemukan disini. Ku bisa memasuki duniaku, melintas batas dimensi keangkuhan.... Semuanya terasa nyaman dan damain. Tenang tanpa satu alasan...
Terlihat samar-samar dari jendela, iringan mobil yang berlalu lalang, kadang membuatku penat. Kadang juga menghiburku. Suaranya seakan-akan membangunkanku pada suatu mimpi buruk tentang hidup ini. Yang kulalui serasa dalam mimpi tak pernah nyata. Tak pernah semu itu menjelma dalam kehidupan. KArena aku merasa aku berada dalam dimensi yang berbeda. Tubuhku jelas di tahun 2010, tapi jiwa ini? entahlah.. aku sendiri belum bisa menerima yang telah Tuhan gariskan. Terserah pada Tuhan, au hanya menjalani dan kuharapkan tanpa beban.
Malam itu aku ingat, setahun yang lalu masih tergambar jelas tentang sebuah pengajaran apa itu hidup. Tentang sebuah keadilan dari yang paling adil. Membuka mata dan hati. Menerobos sela-sela jiwa kemanusiaan yang telah robek oleh manusia sendiri. Aku merasakan sebuah visualisasi yang nyata. Tergambar jelas tanpa halangan.
Seorang anak lelaki yang beranjak dewasa menemukan sebuah jalan hidupnya. HArus memisahkan diri dari orang tuanya, padahal usia nya sangat muda. Entah kenapa dia berani mandiri sebelum waktunya. Entah kenapa dia mau jauh dari orang tuanya. Hanya ada satu alasan rupanya. Persiapan harus di awal waktu, kesalahan kita yang selalu tepat waktu membuat kita terus kian terpuruk.
Saat itu kurasakan sebuah kehidupan nyata. membaur dalam masyarakat dsan benar-benar melakukan apa itu sosialisasi secara sempurna dengan masyarakat. walaupun getir dan keras, tapi langkah sudah dipilih dan harus tetap dijalankan.
Malam itu kumerangkai kata yang berputar dalam otakku. Kubisikan sesuatu pada malam, tentang indahnya hidup dan manisnya kopi susu.....
Malam Bersaksi
Meninggalakan sejuta kenangan yang tak akan pernah kulupakan
Menghanyutkan gelombang rindu dalam sebuah alur permainan
Mendekam bara api yang tercecer di atas puing-puing runtuhan istana es
Malam itu
Suasana begitu sangat syahdu... tenang tapi berwibawa
Angkuh tapi menunjukan suatu kebesaran yang tak ternilai
Sungguh tak ternilai
Bahkan Kalkulator tercanggih pun tak bisa menghitungnya
Aku sangat yakin akan hal itu
Saat kuterpaku pada sebuah pondok ditepi jalan
Kumelihat seorang bapak tua yang sedang tertidur pulas
padahal malam begitu sangat dingin
Hanya berasalkan Bambu kepang dan selimut dari kain sarung lusuhnya
Akh aku pikir ini adalah orang gila
Kuperhatikan sesksama, kenapa begitu rapihnya
Lalu aku berfikir sejenak
Akh dia pasti tuna wisma yang tersisih
Lalu kumencoba mendekatinya tanpa membangunkannya
Kuajak bayangannya berbicara, dan kutelusurui jejak jejak yang tertinggal pada sorot matanya
Begitu jelas terlihat dari raganya ini,
Setia inci menceritakan suatu kisah tentang apa itu hidup
Kerasdan penuh perjuangan
Setengah kau menjalani, maka kesmepatanmu hanya tinggal setengah, lalu habis dan mati
Hanya bisa meratapi yang terjadi
Terlalu berambisi, maka jiwamu akan hancur
banyak yang akan membunuhmu dengan taktik licik yang kejam
Tapi itulah hidup, toh harus kita jalani juga
Lalu kenapa malam terasa begitu dingin bagiku dan hangat baginya?
Sebuah jawaban kuterima
Dari balik matanya yang tengah menutup
"Kau masih muda....
Kau masih belia.... pikiranmu tak akan mampu kesana
Sebelum usia dan pengalama yang mengajarimu
Sebelum kau benar-benar mempunyai hati yang kuat
Sebelum kau tahu arti tentang sebuah pengorbanan
Maka kau tak akan mampu melawan dinginnya malam ini
Tulangku tersusun dari pondasi-pondasi pengalaman hidup
Kulitku tebal setebal apa yang pernah kujalani
Dingin bukanlah alangan bagiku, dia hanya cubitan kecil yang takberarti
dibandingkan dengan hidup yang pernah kujalani"
Dari sorot matanya jelas tergambar betapa menderitanya dia
Betapa kejam hidup ini membantainya
Tanpa ampun
Tak ada kesempatan lagi untuk sekedar bernafas merasakan indahnya dunia
Tak ada satu detikpun untuk mencicipi air hujan yang menetes
Tak ada ampun dan tak akan ada kesempatan lagi.....
Lama kutermenung, aku dikejutkan dengan sesuatu didepan saya...
Cahaya sangat terang dan Bruk....
Semuanya telah berakhir.... Akhirnya tugasku telah selesai di dunia ini....
~~~~
Petir menyambar....Termenenung dan lamunanku hilang. Hilang bersama dengan petir yang barusan saja memakan bumi. Semoga semua angan menjadi sebuah harapan yang nyata.....
Klaten, 12 Desember 2010; 22:14
Saat ini jelas, semua rasa tak bisa kubayangkan. Entah Bahagia yang bercampur dalam duka layaknya larutan kopi susu yang tengah saya minum. Rasa pahit bercampur dengan manis dan kentalnya susu membuat saya benar-benar merasakan nikmatnya hidup. Kadang memang hidup ini manis, melebihi manisnya susu, saat itu kadang kita lupa bersyukur dan lupa siapakah yang telah membuat manisnya kehidupan. Kadang kita terlalu congak dengan apa yang kita raih. Pongah dan sombong. Padahal kita sendiri tak tahu apa yang akan terjadi esok.... jangankan esok, satu detik yang akan datangpun kita tak akan pernah tahu.
Kadang juga pahit, saat banyak masalah datang, Musibah menghampiri seakan cobaan tak henti-hentinya mendera. Saat itu pula kadang kita malah semakin jauh dan menjauh. Bahkan tak jarang kita malah mempertanyakan ke Maha Penyayangan DIA pemilik alam semesta ini.
Pantaskah kita melakukan hal tersebut? Pasti TIDAk, tapi apa kata hati nurani? Apa jawaban dari Otak? Beragam.... Layaknya Kopi Susu yang saya minum tadi, ada warna hitam karena kopinya dan putih karena susunya.
~~~
Hari ini aku merasakan sangat melankolis.... ditemani gerimis dan udara malam yang dingin. Rasanya aku sedang berada pada suatu tempat entah dimana, yang jelas kedamaiana kutemukan disini. Ku bisa memasuki duniaku, melintas batas dimensi keangkuhan.... Semuanya terasa nyaman dan damain. Tenang tanpa satu alasan...
Terlihat samar-samar dari jendela, iringan mobil yang berlalu lalang, kadang membuatku penat. Kadang juga menghiburku. Suaranya seakan-akan membangunkanku pada suatu mimpi buruk tentang hidup ini. Yang kulalui serasa dalam mimpi tak pernah nyata. Tak pernah semu itu menjelma dalam kehidupan. KArena aku merasa aku berada dalam dimensi yang berbeda. Tubuhku jelas di tahun 2010, tapi jiwa ini? entahlah.. aku sendiri belum bisa menerima yang telah Tuhan gariskan. Terserah pada Tuhan, au hanya menjalani dan kuharapkan tanpa beban.
Malam itu aku ingat, setahun yang lalu masih tergambar jelas tentang sebuah pengajaran apa itu hidup. Tentang sebuah keadilan dari yang paling adil. Membuka mata dan hati. Menerobos sela-sela jiwa kemanusiaan yang telah robek oleh manusia sendiri. Aku merasakan sebuah visualisasi yang nyata. Tergambar jelas tanpa halangan.
Seorang anak lelaki yang beranjak dewasa menemukan sebuah jalan hidupnya. HArus memisahkan diri dari orang tuanya, padahal usia nya sangat muda. Entah kenapa dia berani mandiri sebelum waktunya. Entah kenapa dia mau jauh dari orang tuanya. Hanya ada satu alasan rupanya. Persiapan harus di awal waktu, kesalahan kita yang selalu tepat waktu membuat kita terus kian terpuruk.
Saat itu kurasakan sebuah kehidupan nyata. membaur dalam masyarakat dsan benar-benar melakukan apa itu sosialisasi secara sempurna dengan masyarakat. walaupun getir dan keras, tapi langkah sudah dipilih dan harus tetap dijalankan.
Malam itu kumerangkai kata yang berputar dalam otakku. Kubisikan sesuatu pada malam, tentang indahnya hidup dan manisnya kopi susu.....
Malam Bersaksi
Meninggalakan sejuta kenangan yang tak akan pernah kulupakan
Menghanyutkan gelombang rindu dalam sebuah alur permainan
Mendekam bara api yang tercecer di atas puing-puing runtuhan istana es
Malam itu
Suasana begitu sangat syahdu... tenang tapi berwibawa
Angkuh tapi menunjukan suatu kebesaran yang tak ternilai
Sungguh tak ternilai
Bahkan Kalkulator tercanggih pun tak bisa menghitungnya
Aku sangat yakin akan hal itu
Saat kuterpaku pada sebuah pondok ditepi jalan
Kumelihat seorang bapak tua yang sedang tertidur pulas
padahal malam begitu sangat dingin
Hanya berasalkan Bambu kepang dan selimut dari kain sarung lusuhnya
Akh aku pikir ini adalah orang gila
Kuperhatikan sesksama, kenapa begitu rapihnya
Lalu aku berfikir sejenak
Akh dia pasti tuna wisma yang tersisih
Lalu kumencoba mendekatinya tanpa membangunkannya
Kuajak bayangannya berbicara, dan kutelusurui jejak jejak yang tertinggal pada sorot matanya
Begitu jelas terlihat dari raganya ini,
Setia inci menceritakan suatu kisah tentang apa itu hidup
Kerasdan penuh perjuangan
Setengah kau menjalani, maka kesmepatanmu hanya tinggal setengah, lalu habis dan mati
Hanya bisa meratapi yang terjadi
Terlalu berambisi, maka jiwamu akan hancur
banyak yang akan membunuhmu dengan taktik licik yang kejam
Tapi itulah hidup, toh harus kita jalani juga
Lalu kenapa malam terasa begitu dingin bagiku dan hangat baginya?
Sebuah jawaban kuterima
Dari balik matanya yang tengah menutup
"Kau masih muda....
Kau masih belia.... pikiranmu tak akan mampu kesana
Sebelum usia dan pengalama yang mengajarimu
Sebelum kau benar-benar mempunyai hati yang kuat
Sebelum kau tahu arti tentang sebuah pengorbanan
Maka kau tak akan mampu melawan dinginnya malam ini
Tulangku tersusun dari pondasi-pondasi pengalaman hidup
Kulitku tebal setebal apa yang pernah kujalani
Dingin bukanlah alangan bagiku, dia hanya cubitan kecil yang takberarti
dibandingkan dengan hidup yang pernah kujalani"
Dari sorot matanya jelas tergambar betapa menderitanya dia
Betapa kejam hidup ini membantainya
Tanpa ampun
Tak ada kesempatan lagi untuk sekedar bernafas merasakan indahnya dunia
Tak ada satu detikpun untuk mencicipi air hujan yang menetes
Tak ada ampun dan tak akan ada kesempatan lagi.....
Lama kutermenung, aku dikejutkan dengan sesuatu didepan saya...
Cahaya sangat terang dan Bruk....
Semuanya telah berakhir.... Akhirnya tugasku telah selesai di dunia ini....
~~~~
Petir menyambar....Termenenung dan lamunanku hilang. Hilang bersama dengan petir yang barusan saja memakan bumi. Semoga semua angan menjadi sebuah harapan yang nyata.....
Klaten, 12 Desember 2010; 22:14
23 Juni 2012
Kamis, 13 November 2014
Label:
Notes
“Tanah Air ku Tidak Kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanahku yang kucintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri kujalani
termasyur permai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalah ku rasa senang
tanahku tak kulupakan
Engkau ku banggakan”
Sepenggal lagu yang sering kita dengar, tapi tak jarang kita tidak mengerti. Bercerita tentang betapa indahnya Pertiwi, Betapa permainya nusantara, tapi sedikit terlupakan oelh anak kandung nya. Indonesia yang telah berjalan selama lebih dari 6 dekade ini harus perlahan kehilangan jati diri bangsnya bersamaan dengan hilangnya kepedulian kaum muda. Nasionalisme menjadi barang langka ketika hedonisme menjadi hal yang wajar.
Berbagai budaya masuk tanpa adanya penyaringan, langsung serap tanpa adanya akulturasi budaya. Tanpa sedikitpun mau untuk menyatu dengan budaya asli bangsa ini. Malahan budaya asli yang begitu adiluhung serta luhur ini harus perlahan meninggalkan tuan nya. Tergeser oleh perkembangan zaman yang tak bisa lagi dikendalikan oleh tuannya. Pertiwi melemah dengan berbagai penyakit jiwa yang dideritanya, seperti korupsi, bentrokan, tawuran dan berbagai macam penyakit jiwa yang dibawa serta diidap oleh anaknya sendiri.
Kaum muda, sebegai generasi emas dan generasi yang cerdas, harusnya mampu untuk bisa menghadapi tatangan yang begitu deras dan kuat terus menerus menerpa.Tapi pada kenyataanny justru sebaliknya, pertahanan benteng yang lemah karena tak adanya pendidikankarakter yang memadai, serta pengetahuan dan rasa cinta tanah air yang ditanamkan oleh keluarga membuat mereka semakin terpuruk. Di jadikan sebagai budak budaya yang mulai membanjiri negeri, dijadikan sebagai korban dari ganasnya globalisasi. Globalisasi seharunya mampu menciptakan budaya yang sesuai dengn jamannya. MAmpu membangkitkan keratiufitas budaya, bukan malah mampu mengahncurkan budaya asli itu sendiri.
Menjelang peringatan sumpah pemuda, masih adakah gaung sumpah itu sekarang dirasakan? Adakah yang mengerti betapa rumusan sumpah yang begitu luar biasa mampu menyatukan berbagai organisasi kepemudaan pada masanya kala itu? Seprti yang kita lihat, pemuda sekarang justru malah terpecah belah. Terpecah oleh kegoisan masing-masing, oleh keinginan dan nafsu yang menguasai jiwanya yang sedang sekarat. BAngsa yang besar dan maju masa depannya berada di tangan pemuda, namun apakah yang bisa dipertahankan dilakukan ketika pemudanya terkena penyakit jiwa yang ,mengancam? Pasrah ataukah hanya bisa berdiam melihat kehancuran, kerusakan dan kemusnahan perlahan menghampiri? Tentunya tidak, berbuat sekcil mungkin untuk menyelamatkan bangsa sendiri dari amnesia massal dan penyakit kronis bangsa lainnya. Pemuda harapan bangsa , semua cita-cita dan arah pembangunan masa depan Bangsa ini berada dipundaknya. Kokohkan dan stukan. Jiwa-jiwa pemuda yang kosong harus segera diisi sebelum raganya rapuh. Indonesia bisa dan mampu karena pemudanya.
Sumpah pemuda akan kita peringati lagi untuk kesekian puluh kalinya, sudah saatnya kesadaran berkebangsaan, bela negara dan nasionalisme dikembangkan dan ditumbuhkan kembali. Bukan hanya hedonisme yang dituankan, tapi budaya asli yang harus dilestarikan dan dijaga. Budaya yang luhur serta membanggakan. Singsingkan lengan baju, saatnya bergandeng tangan untuk membangun negeri. Ditengah keterpurukan ekonomi, sosial dan moral, saatnya kita bangkit. Sudah lama kita tertidur dan dinina bobokan oleh buday yang tak oantas untuk negeri yang beretika dan bermoral. Sudah saatnya kita turun dari tempat tidur dan mulai membangun bersama menantang matahari. Kepalkan tangan, bulatkan tekad dan satukan misi serta visi menuju Indonesia Raya yang Berbhineka Tunggal Ika…. PAncasila masih sakti dan menunggumu untuk bersama mengawal pertiwi…. Sang Saka masih berkibar gagah ditengah lusuhnya kain yang membangunnya dan Zamrud khatulistiwa masih tetap memancarkan sinarnya ditengah kegelapan yang melingkupi. Bangun Pemuda Harapan Bangsa, wujudkan Sumpahmu dalam hidup nyata….. Kami Pemuda Indonesia yang Berbahasa satu, berbangsa satu dan bertanah air satu, INDONESIA…..
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanahku yang kucintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri kujalani
termasyur permai dikata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalah ku rasa senang
tanahku tak kulupakan
Engkau ku banggakan”
Sepenggal lagu yang sering kita dengar, tapi tak jarang kita tidak mengerti. Bercerita tentang betapa indahnya Pertiwi, Betapa permainya nusantara, tapi sedikit terlupakan oelh anak kandung nya. Indonesia yang telah berjalan selama lebih dari 6 dekade ini harus perlahan kehilangan jati diri bangsnya bersamaan dengan hilangnya kepedulian kaum muda. Nasionalisme menjadi barang langka ketika hedonisme menjadi hal yang wajar.
Berbagai budaya masuk tanpa adanya penyaringan, langsung serap tanpa adanya akulturasi budaya. Tanpa sedikitpun mau untuk menyatu dengan budaya asli bangsa ini. Malahan budaya asli yang begitu adiluhung serta luhur ini harus perlahan meninggalkan tuan nya. Tergeser oleh perkembangan zaman yang tak bisa lagi dikendalikan oleh tuannya. Pertiwi melemah dengan berbagai penyakit jiwa yang dideritanya, seperti korupsi, bentrokan, tawuran dan berbagai macam penyakit jiwa yang dibawa serta diidap oleh anaknya sendiri.
Kaum muda, sebegai generasi emas dan generasi yang cerdas, harusnya mampu untuk bisa menghadapi tatangan yang begitu deras dan kuat terus menerus menerpa.Tapi pada kenyataanny justru sebaliknya, pertahanan benteng yang lemah karena tak adanya pendidikankarakter yang memadai, serta pengetahuan dan rasa cinta tanah air yang ditanamkan oleh keluarga membuat mereka semakin terpuruk. Di jadikan sebagai budak budaya yang mulai membanjiri negeri, dijadikan sebagai korban dari ganasnya globalisasi. Globalisasi seharunya mampu menciptakan budaya yang sesuai dengn jamannya. MAmpu membangkitkan keratiufitas budaya, bukan malah mampu mengahncurkan budaya asli itu sendiri.
Menjelang peringatan sumpah pemuda, masih adakah gaung sumpah itu sekarang dirasakan? Adakah yang mengerti betapa rumusan sumpah yang begitu luar biasa mampu menyatukan berbagai organisasi kepemudaan pada masanya kala itu? Seprti yang kita lihat, pemuda sekarang justru malah terpecah belah. Terpecah oleh kegoisan masing-masing, oleh keinginan dan nafsu yang menguasai jiwanya yang sedang sekarat. BAngsa yang besar dan maju masa depannya berada di tangan pemuda, namun apakah yang bisa dipertahankan dilakukan ketika pemudanya terkena penyakit jiwa yang ,mengancam? Pasrah ataukah hanya bisa berdiam melihat kehancuran, kerusakan dan kemusnahan perlahan menghampiri? Tentunya tidak, berbuat sekcil mungkin untuk menyelamatkan bangsa sendiri dari amnesia massal dan penyakit kronis bangsa lainnya. Pemuda harapan bangsa , semua cita-cita dan arah pembangunan masa depan Bangsa ini berada dipundaknya. Kokohkan dan stukan. Jiwa-jiwa pemuda yang kosong harus segera diisi sebelum raganya rapuh. Indonesia bisa dan mampu karena pemudanya.
Sumpah pemuda akan kita peringati lagi untuk kesekian puluh kalinya, sudah saatnya kesadaran berkebangsaan, bela negara dan nasionalisme dikembangkan dan ditumbuhkan kembali. Bukan hanya hedonisme yang dituankan, tapi budaya asli yang harus dilestarikan dan dijaga. Budaya yang luhur serta membanggakan. Singsingkan lengan baju, saatnya bergandeng tangan untuk membangun negeri. Ditengah keterpurukan ekonomi, sosial dan moral, saatnya kita bangkit. Sudah lama kita tertidur dan dinina bobokan oleh buday yang tak oantas untuk negeri yang beretika dan bermoral. Sudah saatnya kita turun dari tempat tidur dan mulai membangun bersama menantang matahari. Kepalkan tangan, bulatkan tekad dan satukan misi serta visi menuju Indonesia Raya yang Berbhineka Tunggal Ika…. PAncasila masih sakti dan menunggumu untuk bersama mengawal pertiwi…. Sang Saka masih berkibar gagah ditengah lusuhnya kain yang membangunnya dan Zamrud khatulistiwa masih tetap memancarkan sinarnya ditengah kegelapan yang melingkupi. Bangun Pemuda Harapan Bangsa, wujudkan Sumpahmu dalam hidup nyata….. Kami Pemuda Indonesia yang Berbahasa satu, berbangsa satu dan bertanah air satu, INDONESIA…..
Langganan:
Postingan (Atom)