Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Tak Apa

Rabu, 17 Desember 2014

0 komentar


Tak apa jika siang ini langitku di penuhi awan kelabu
Jika angin datang membawa bulir hujan
Aku akan baik baik saja disini

 Tak apa jika mendung menghiasi langitku sore ini
Jika sang surya tenggelam dalam kesedihan
Aku akan baik baik saja disini
Aku akan tetap memanti apa yang harus aku nanti

Langitku,
Engkau selalu setia dalam menemani hariku
Mendungmu tak pernah kau hiraukan
Yang kau tahu kau selalu ada untuk menemaniku

Langitku
Ketika senja datang perubahan napak jelas di rupamu
Ketika putih berganti pekatnya malam
Kesunyian terpancar menggantikan keramaian yang berlalu

Aku akan tetap baik-baik saja disini
Akan kun anti ketika esok engkau dtang kembali
Dengan harapan yang kau bawa
Dengan sejuta kenangan yang telah menghiasi hariku
Dengan sejuta keindahan serta air mata dan tawa yang menggema

Namun semua itu tak berarti,
Jika mendung terus saja datang dan menghiasi indahnya ufukmu
Jika butiran air hujan terus saja menghujami bumiku
Dan ketika engkau terus saja dihiasi awan kelabu

Tetapi aku akan selalu disini
Selalu untuk setia menunggumu
Setia menanti ketika mendung teah pergi dari suramnya wajahmu
Untuk menanti akhir dari tetesan yang menghujam bumiku
Dan menanti agar sinarmu terpancar kembali ke dalam hatiku

Dan sampai kapanpun aku akan tetap baik baik saja
Akan tetap memantimu sampai sinarmu telah redup dan tak berbekas lagi
Sampai tangan Tuhan yang akan menyatukan kita
Ketika kita sudah berada dalam sebuah keabadian

Untuk saat ini, aku akan baik baik saja…


Written by Elang Senja Nusakambangan, Delanggu 15 Desember 2014.

Ajari Aku

Minggu, 16 November 2014

0 komentar
Lelahku dalam sebuah penantian
Mengitung setiap titik air mata langit yang jatuh ke pertiwi
Mengurai satu demi satu pasir dari pantai kehidupan
Memisahkan setiap perpaduan warna cinta dan kebencian

Indah ku rasakan dalam kebencian jiwamu
Senyummu
Paras setiap lekuk keindahan

Pada padang pasi aku bertanya
Adakah setitik air cinta yang menetes dalam dataran yang tandus ini?
Adakah embun yang bisa membasahi dahaga cintaku ini?
Adakah oase yang penuh akan kasih sayang dalam dunia tanpa harap ini?

Pada rembulan aku mengumpat
Rembulan, jika kau memang cantik dan indah
Mengapa kau tak muncul setiap malam
Mengapa kau tak sepenuh jiwamu untuk menghiasi bumi ini

Pada laut aku berteriak
Lautan cinta yang dalam dan luas
Kenapa kau tak memberiku sedikit saja manisnya cinta
Mengapa kau hanya memberiku sebuah badai yang aku bisa mati didalamnya
Tak tentu kau ombang ambingkan
Tak tentu arah kau tujukan

Pada Tuhan aku bertanya..
Masihkah ada cinta yang benar-benar tulus untukku Tuhan?

Padamu aku bersapa..
Kasih
Ajari aku
Bagaimana cara mengasihi dan menyayangi
Bgagaim,ana caramencari kasih dalam lumpur kehidupan yang penuh dengan kekecewaan

Kasih...
Maukan kau bersamaku
Masihkah kau bisa bertahan dalam diriku
Dengan kapal yang telah retak
Mengarungi lautan kasih dan kehidupan ini...

Pada Nusakambangan Bersaksi

0 komentar
Pada Senja ku bertanya, apakah masih ada cinta yang sejati?
Pada laut ku bergumam, mungkinkah ini akhir segalanya?
Jika cinta itu ada dan nyata, haruskah semua ini terjadi?

Hanya lautan luas dan hamparan pasir pantai yang menjadi saksi...
Pada saat kau pertama berjanji mengikat ikatan suci sebuah cinta...
Pada saat kau berjanji akan selalu mengisi kekosongan hatiku...
Pada saat kau mengatakan semuanya harus berakhir sampai disini....

Ya, didepan adalah pulau Nusakambangan yang menyimpan sejuta pesona...
Yang menjadi saksi semua cerita kita...
Yang akan terus bersaksi betapa kau telah menggoyak hati ini....

Janji tinggallah sebuah janji tanpa arti...
Menepis semua kenangan manis yang telah kita lewati...
Menghancurkan indahnya waktu yang telah kita jalani....
Meninggalkan kepedihan yang terus menyiksa hati ini...

Pada Nusakambangan itu telah terlukis sebuah janji cinta.....
Pada Nusakambangan itu pula telah tercipta goresan hati yang mendalam.....


Senja di Nusakambangan,
Cilacap, 13 Juni 2008


Mencoba mengumpulkan puing-puing puisi yang pernah kubuat....^_^

Coretan Tepian Serayu

0 komentar
Di Tepian Serayu Aku Menulis
Menuliskan semua kisah Tentangku,
Tentangmu, Tentang Mereka dan Dunia
Menuliskan sajak sajak pelipur lara
Menghadirkan sejuta kenangan yang tiada tara
Melupkan seluruh emosi jiwa yang bersambung dari dalam raga
Menghilangkan sejenak kesan yang tak termakna
Menghadirkan sejuta cinta dalam sebuah dilema

Di Tepian Serayu Aku Mencari Arti
Tentang namanu Serayu
Tentang apa itu hidup dan perjuangan
Tentang cinta dan Kenimkatan sesaat
Tentang Wanita dan Lelaki yang diharuskan bersatu
Tentang liku takdir seseorang
Tentang Fatamorgana kehidupan
Tentang arti dibalik setiap lembut aliranmu
Dan Tentang Aku, Kau, Mereka dan Dunia

Di Tepian Serayu Aku bersaksi
Bahwa hidup memanglah sebuah pilihan
Bahwa hidup harus kita jalani tanpa keterpaksaan
Bahwa Cinta itu adalah sebuah pilihan
Bahwa Cinta harus kita jalani tanpa keraguan
Bahwa Serayu tak akan berhenti mengalir
Bahwa Aku, Kau, Mereka dan Dunia adalah harus satu

Di Tepian Serayu Aku Menangis dan Bertanya
Mengapa semua harus terjadi padaku?
Mengapa hidup ini begitu singkat Untuk kebaikan
Mengapa hidup ini begitu singkat untuk Cinta
Mengapa hidup ini begitu singkat untuk menyayangi
Mengapa hidup ini begitu singkat untuk memberi
Mengapa hidup ini begitu singkat untuk mengasihi sesama

Di Tepian Serayu Aku Meratap
Sudahkah Cinta kita bersatu dengan semestinya
Sudahkan Dunia ini ditempati orang yang semestinya
Sudahkan Kebaikan hiang dari peredarannya
Sudahkan kejhahatan lenyap dari segala nya
Sudahakah Kau menjadi Milikku wahai Kekasihku???

Di Tepian Serayu Aku Berucap
Jaga kisahku wahai Serayu
Jaga kisah dunia ini
Jaga Aliranmu
Jaga kehidupan Manusia yang bergantung padamu
Jaga semua keseimbanganmu
Jaga semua kisah yang telah kau saksikan
Kisah tentang hidupku bersama manusia
Kisah tentang Aliranmu bersama manusia
Kisah tentang Baik dan Buruk manusia
Kisah tentang Alam dan Manusia

Di Tepian Serayu... Aku Mengahkiri hidupku....
Di Tepian Serayu... Aku pun akan memulai Hidupku kembali....

IBU

0 komentar
kau memberikanku hidup
kau memberikanku kasih sayang
tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
takkan pernah terbalaskan
hangat dalam dekapanmu
memberikan aku kedamaian
eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
takkan pernah terlupakan

reff:
oh ibu terima kasih 
untuk kasih sayang yang tak pernah usai
tulus cintamu takkan mampu
untuk terbalaskan

oh ibu semoga tuhan
memberikan kedamaian dalam hidupmu
putih kasihmu kan abadi
dalam hidupku


Entah kenapa setiap kali mendengar lagu itu, air mata tak terasa menetes. Ada sesuatu yang lebih dibalik lagu tersebut. Ya... Sungguh menyentuh lagu yang dibawakan oleh Ungu. Terlebih lagi tentang Ibu.... Seseorang yang kadang kita lupakan, kita campakkan dan tak kita pedulikan lagi.

Ibu....
Sudah berapa ratus kali ibu membasuh air mata kita
Saat kita menangis bahagia, menangis sedih
Ibu membasuhnya tanpa alas
Tangannya yang lembut menyentuh tanpa ada rasa jijik sedikitpun
Setiap butiran air mata selalu diusapnya
Seakan Ibu sedang mengumpulkan butir demi butir permata
Yang tak boleh pecah ataupun tergores
Ibu tak pernah sedikpun untuk lelah membasuh setiap duka kita
Ketika kita jatuh, dengan cepat ibu menghampiri kita
Ibu takut, buah hatinya terluka
Ibu takut kita cedera
Ibu takut kita tergores dan berdarah
Dengan sigap sang Ibu mengelap luka kita
Tak sedikitpun tanah dibiarkan menyentuh kita
Tak satupun bakteri dibiarkan menyerang kita
Ibu lebih dari tentara berlapis baja

Ketika kita beranjak dewasa
Ibu senantiasa menjadi kompas bagi kita
Apa yang boleh dan tak boleh kita jalani
Apa yang pantas dan tidak pantas untuk kita lakukan
Tak pernah lelah
Tak pernah letih
Ibu, adalah kompas yang berjalan dan tak pernah usang

Ketika kita lulus SMA
Ibu sibuk menyiapkan segalanya
Kuliah dan masa depan kita
Memilihkan yang terbaik untuk kita
Agar kita bisa menjadi yang terbaik
Hanya satu harapan Ibu
Agar kita bisa bahagia

Tapi
Pernahkah sedikitpun kita berfikir
Ibu Menangis karena suara kita?
Karena bentakan kita?
Karena kelakuan kita?
Karena kita susah diatur?
Pernahkan sedikit kita ingin tahu perasaan ibu saat itu?
Untuk manghapus air matanya?
Pernahkah kita berfikir betapa berat dan dalam luka ibu
Ketika kita membuatnya menangis
Ketika kita membuatnya mendung?
Ketika kita memaksanya mengeluarkan air mata?
Tak pernah
Tak pernah kita berfikir untuk mengusap air mata ibu
Kita terlalu sibuk dengan dunia kita
Kita sekolah dan kuliah, kita sibuk belajar
Lupa dengan sosok Ibu
Banyak Tugas menumpuk, laporan menumpuk
Kita lupa dengan Ibu
Kita kerja, bahkan sampai larut malam
Kita tak peduli dengan Ibu
Kita sibuk, kita sibuk
Tak hiraukan Ibu
Bahkan ketika Ibu menelefon hanya sekedar untuk menanyakan kabar
"Nak, apakah kau baik-baik saja?"
"Apakah kau sudah makan?"
Tak kita hiraukan
Kita menganggap telfon dari ibu itu adalah guyonan
Hanya buang-buang waktu

Tahukah kita, ketika Ibu mencoba menelefon kita
Dia berharap bisa mendengar suara buah hatinya yang amat dia cintai
Dia berharap bisa mengetahu kabarnya, mengetahu buah hatinya dalam keadaan sehat
Hanya itu
Ibu tak butuh Apapun dari kita
Dia tak butuh materi
Ibu hanya ingin tahu keadaan kita....

Ibu..
Maafkan aku Ibu,
Ketika lebaran tahun lalu
Aku memaksamu untuk membelikan baju baru untukku
Tak ada uang, tapi kau memaksa membelikan aku baju itu
Demi aku yang menangsi merenggek
Kau gadaikan bahkan kau jula harta terakhirmu
Hanya demi anakmu

Ibu Maafkan aku
Ibu... Ketika kita mendapatkan rejeki
Kau belikan sedikit makanan enak
Sisanya kau simpan untuk hari esok
Saat makan tiba, kau hanya mengambil kuahnya
Kau berikan semua lauknya untkku
Anakmu
Kau berkata bahwa kau tak suka
Kau berkata bahwa kau tak lapar
Ibu....
Sungguh aku merasa bersalah padamu
Ibu....
Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan kegiatanku
Sibuk dengan sekolah, les dan kegiatan sekolah yang lain
Sibuk dengan kuliah dan jalan-jalan bersama teman-teman kampus
Sibuk dengan kerja, hingga ku tak memikirkan telfon darimu
Ibu...
Sungguh aku ingin menangis di pangkuanmu
Berharap kau masih mau menyeka air mataku
Dan harapanku tak sia sia
Kau selalu melakukannya untukku
Semua itu
Ibu...
Maafkan aku....
Kasihmu akan selalu abadi dalah hidupku
Tak akan pernah sedikitpun usang
Tak akan pernah sedikitpun hilang
Ibu....

Aku mohon maaf Ibu, tak pernah aku peduli denganmu
Aku sibuk dengan duniaku
Ibu.....

Puisi Soe Hok Gie

0 komentar
PUISINYA
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan batang leher kemejaku


Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA


PUISI 2
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,
Ttapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku


Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangngku
Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

PUISI 3
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Aku dan Kawan Sepiku

Kamis, 13 November 2014

0 komentar
Hari hari terus ku lalui
Sama tanpa suatu yang berbeda
Ketika masa lalu hanya tersimpan sebagai duka
tak bisa ku dapatkan apa apa
Hanya perih yang menyelinap
Hanya tangis yang tersibak
Hanya rintihan yang kurasa

Kelam dilangit sana tak berarti hujan
namun air mata ini terus mengalir
Jatuh dalam sebuah ingatan
menggoreskan luka yang telah tersayat
memotong asa dengan sayatan pilu
tanpa ampun, kau rajam perasaan hati ini

Malam yang larut membuatku terpana
masihkah ada seberkas kasih abadi
cinta tulus yang didamba tiap manusia
untuk mengisi kekosongan surga dalam hati

Malam dan sepi
Siang dan sepi
Pagi dan Sepi
Sore dan sepi

Tiap detik, tiap menit tiap waktu hanya ada kesepian
tanpa sedikit kebahagiaan
tanpa sedikit harapan yang terselimut asa
hanya sedikit air mata yang berdarah
dan itu pun hanya sedikit

Sepi kini menjadi teman
Esok menjadi sahabat
dan lusa dan selamanya adalah kawan
Sepi kini menjadi terang
sepi kini menjadi kawan…..

e N T a H

0 komentar
Kemana mereka
Yang pada masanya tak takut pada penguasa durjana
Yang pada masanya idealismenya luar biasa
Yang pada masanya, berjuang demi harga diri bangsa
Yang pada masanya tak sedikitpun melepas asa

Kemana mereka
Yang saat itu tak tunduk karena uang
Yang saat itu, bersama selalu bejuang
Yang saat itu selalu bersama menyerang
Yang saat itu siap untuk menumbang
Orde penguasa yang merajam pedang

Kemana mereka
Yang bilamana rakyat berteriak
Mereka datang dengan penuh pertolongan
Yang bilamana rakyat menangis
Mereka datang dengan sejuta harapan
Yang bilamana rakyat tertawa
Mereka datang dengan mimpi yang nyata
Yang bilamana rakyat bersedih
Mereka datang dengan rangkul tangan di pundaknya

Kemana mereka
Yang ketika peluru berdesing, mereka menajamkan keberanian
Yang ketika bom meledak, mereka menerjang ranjau terpasang
Yang ketika demokrasi terlukai, mereka dengan gagah berada di baris terdepan
Yang ketika reformasi terhianati, mereka berbicara dengan lantang
“Lawanlah kami, putra bangsa pembela pertiwi”

Kemanakah mereka
Apakah mereka sedang minum secangkir kopi di warteg sebelah
Ataukah mereka sedang berada di cafe seberang jalan
Ataukah mereka tengah berkeliling menjual omongan
Ataukah mereka sedang berjuang mengambil bagian terlarang

Kemanakah mereka
Ketika nestapa hilang di pelupuk mata
Ketika bahagia nampak di seberang samudra
Ketika itu juga Mereka raib entah kemana…

Dimanakah mereka…

Entah

Minggu, 09 November 2014

0 komentar
Sepertinya aku melihat laut
ya kumelihatnya
Lihat... disana ada laut
Airnya begitu tenang dan jernih
Begitu menawan
Ombaknya begitu membuatku tertegun
Bekejaran berlomba menuju pantai
Dan aku telah berjalan diantaranya
KAki ku telah dijilati oleh ombak kecil ini
Seakan-akan mereka berebut untuk bisa menyentuhku
Padahal aku hanya inginkan satu hal
Ku ingin tahu isi laut itu

Disana ada gunung
Aku melihatnya
Menjulang tinggi dengan kokoh
Begitu menawan
Sangat gagah dan tegas
Tapi kelihatannya dia angkuh
Apa yang harus kulakukan?
Kucoba untuk mendakinya
setapak demi setapak
Aku coba untuk mendakinya
Aku coba untuk menahlukannya
Walau susah walau berat
Tapi aku mampu menuju puncaknya

Diatas sini kulihat laut
Dia tak lagi tenang
deburannya menghancurkan
Ombaknya mematikan
Karang disebelahnya terlihat kokoh tapi rapuh
Kenapa laut begitu memberontak....

Tanpa

Kamis, 17 Juli 2014

0 komentar
oleh Sang Pengembara pada 5 Mei 2012 pukul 18:41 · 


Aku sekarang menjadi batu
Di tapal batas tanpa suara
Menjerit dalam keheningan yaang berlarut
Tanpa seorang tahu akan keadaan ku
Menjadi sebuah cerita yang usang
Tertutup oleh tebalnya debu kebisuan
Berbaur dengan sandiwara tanpa arah

Aku mencoba berlari
namun mereka selalu mengejarku
Menangkap ku dan menyayat kulitku
Aku terduduk pilu dalan keheningan
Ku tak bisa meronta
ku hanya terikat sebuah keadaan

Lalu akku mencoba merangkak
dengan sayatan perih luka di jiwa
Kucobaa untuk terus merayap
Menembus batas emossi dan keegoisan
Ketika ku lihat pintu terang disana
Hanya ada cahaya silau yang menusuk nurani

Sebuah Tanya

0 komentar
Adakalanya aku nyaris membunuh diriku sendiri
Ketika dia selalu menerobos gelap bayangnya masalalu
Mencoba kembali menghadirkan kisah lama yang seharusnya terpendam
Dan mengen kembali semua peran yang telah terabaikan

Ketika semua terjadi
Semuana telah hidup pada batas diri masing-masing
Memulai cerita baru dalam sebuah lembaran kenangan
Yah, walau semuanya pernah terlintas jelas dan nayat
Tetapi sekarang semuanya harus menjadi maya dalam balik jeruji masa lalu

Adakalanya setiap detik langkah masalalu harus ditebus dengan airmata
Ketika bahagia menjelma menjadi derita yang penuh dengan peluh
Ketika derita adalah gambaran dari bahagianya masa yang akan datang
Namun sekali lagi, aku mencoba untuk bisa membunuh masalaluku
Tetapi tetap tidak bisa, Dia masih leluasa menerobos bayang gelap
Mengikuti celah sempit diantara sekat yang transparan
Menjadikanku bertanya tentan kesadaran jiwa

Sampaikan pada diriku, masalaluku, ceritaku dan semua tokoh dalam hidupku
Aku tak mau kembali, Jiwaku telah melayang dalam indahnya dunia penuh kepalsuan
Namun aku masih tertidur pulas dalam indahnya masalalu
Menjadikanku bertanya, Kenapa masalalu menjadi indah pada masa kini
Mengapa semuanya harus berakhir dalam sebuah indahnya penderitaan....

Sebuah tanya, akan selalu menghiasi
Sebuah tanya tetap akan menjadi tanda tanya,,,
Antara Aku, Kisahku, Masalaluku dan Semua tokoh dalam hidupku...